Setelah perjuangan berat ikhlas menerima apapun dari RidhoNya, aku mulai menjalani hari dengan tenang. Nikmat sekali menghela nafas kehidupan yang diberikanNya. Upaya untuk menahan emosi melihat semua yang terjadi masih berat. Makhluk tak kasat mata terkadang terlepas aku sapa. Seperti saat penyembuhan ke Kediri. Aku diapit orang tuaku di kursi belakang mobil sedan merah entah itu civic atau corolla yang disopiri kakak iparku. Aku melihat sepanjang jalan ramai sekali. Dipenuhi "orang-orang" yang melambaikan tangan kepadaku di jendela mobil. Aku tersenyum dan mengucapkan seperti layaknya seorang jawa yang sopan "monggo mas, monggo mbak.." (mari mas, mari kak). Ibuku bertanya sambil tertawa, "Siapa yang kau sapa nak, tidur saja, masih magrib nanti sampe kediri malam". Akupun mengangguk dan berusaha tidur. Begitu aku bangun aku sudah di kasur pasien sebuah klinik. "Kok pak dokter membawa palu kayu? saya gila ya pak?"
Aku meracau sepertinya, karena orang berjas putih itu hanya menatap mataku tanpa menjawab pertanyaanku. Kemudian aku dipapah orang tua keluar ruangan itu, nampak jelas orang orang tua sekitar umur 80an mungkin, semua ada di situ. Wah benar, aku terlihat setres mungkin dibawa kesini. Aku tidak ambil pusing dan terus berjalan melewati beberapa makhluk berwajah aneh dan mengambang di pohon depan klinik itu. Hmmm.. jangan berfikir macam macam, masuk mobil dan rebahan. Setelah itu aku bisa tidur pulas, entah apa yang diberikan dokter. Mungkin morfin atau apapun itu yang penting membuatku tidur dan tubuhku mulai punya tenaga untuk sekedar berjalan ke kamar mandi dengan sempurna. Alhamdulillah...
Beberapa hari kemudian, masih di kamar yang paling belakang, sekitar 20 langkah dari pintu masuk ini sebenarnya bukan kamar tertutup, mendengar seseorang di depanku mengajakku ngobrol, Pak AGT, seorang guru SMP teman sekolah bapak. Aku terbaring dan dengan mata terpejam bercakap cakap, maklum tidak dapat kulihat jelas siapapun yang mendekatiku
"Piye kabare le?" (gimana kabarnya nak?)
"Sae pak?" (baik pak)
"Piye sik pingn belajar ilmu ta? lek belajar ilmu melu aku ae ng Wlingi (Gimana masih ingin belajar ilmu kah? kalo belajar ikut saya saja ke Wlingi).
Mendengar kata "wlingi" aku sadar ilmu yang dimaksud adalah ilmu metafisika yang aku pernah pelajari. Wlingi adalah salah satu kota di kabupaten blitar dimana banyak hal mistis yang aku dengar disana, beberapa petapa ilmu hitam dan putih aku dengar, salah satunya dari penduduk kaki gunung buthak, di atasnya serahkencong sebuah perbukitan teh saat aku mencoba mendaki dulu.
"mboten pak, kulo dados tiyang biasa kemawon, mboten kiat" (tidak pak, saya jadi orang biasa saja, tidak kuat)
Kemudian suara keras dari ruang tamu dengan jelas matakupun melihat sekitar.
"Mreneo kowe le, aku ng ngarep" (kesini kamu nak, aku di depan)
Apa? aku berbicara mata batin, masyaAllah, apakah hanya imajinasiku lagi?
Dengan terangnya pandangan mata dan pancainderaku, aku bergegas ke ruang tamu dengan tegap
"Pak AGT.." Sepertinya beberapa kali aku memangilnya tapi kapan ya? ah sudahlah no more drama
anggap saja imajinasi
Kemudian dengan tahap demi tahap beliau menceritakan sebab akibat aku sakit
Dia sepertinya tau perguruan apa yang aku masuki sebelumnya, dia paham berapa jurus dan prinsip. Setelah aku meyakinkan bahwa aku tidak akan memperdalam ilmu itu lagi, pak AGT mengatakan kalo setelah aku keluar dari perguruan itu aku tidak ada mempraktekannya lagi. Hanya saja setelah berlatih fisik dengan samsak dan double stik di blitar, aku secara tidak sengaja menerapkan lagi jurus jurus itu, dan akhirnya waktu aku di malang tidak sengaja menyerang teman dengan jurus yang sudah lama tidak kulatih itu. Astagfirullahaladzim..
Pak AGT tidak menyebutkan nama teman yang aku serang, "sudah lupakan saja, yang penting sekarang kamu tau itu berbahaya, Metafisika sekilas tidak terlihat, tapi sebenarnya sama saja seperti ilmu fisika, kalo dipukul ya sakit"
Jelasnya, teman yang aku "serang" itu mempunyai ilmu yang hampir sama, dia melapor ke gurunya dan menyerang balikku dari jarak jauh atau dekat akupun tidak minta membahasnya. Aku sudah kapok. Aku tak mau membuang masa depanku apalagi aku sudah berjanji pada Yang Maha Kuasa untuk memperbaiki hidupku. Semoga aku bisa menahan godaan nafsuku akan ilmu ilmu semacam ini. Amin
"Apa rokok kesukaanmu?", kata Pak AGT dengan tegas dan cepat cepat minta orang tuaku membelikannya.
"Sambil merokok, nanti kamu akan mudah konsentrasi omong omongan sama aku, medianya itu. Meskipun meta yang namanya metafisika tetap harus ada medianya" kata beliau yang sampai sekarang aku pun tak tau bagaimana cara kerja logisnya metafisika. haha masa bodo ah
Setelah aku membakar rokok pertama, Pak AGT menanyakan kertas yang dibawanya,
"ada tulisan apa ini?"
"apa pak?", Kubaca pelan pelan dari atas sampai ke bawah
"Sepertinya lembar jawaban ujian pak, memang kenapa pak?" aku bertanya sambil menghisap rokokku dengan nafas dalam
"oh... gak ada yang kamu ingat?" sela beliau.
hmmm apa ya? kuulang lagi dari atas, wah kutemukan nama tengah dari lembar jawaban itu
"ii iinii..." belum sempat aku jelaskan lembar jawaban itu sudah dirampas beliau dan memanggil bapakku, "Mas, mohon dibakar di barat rumah, Bismillah dulu"
Weh apa apaan ini? aku sepertinya kenal nama itu. Ah biarkan saja
"Lanjut lagi, ini bahasa Inggris" Beliau kasih dan minta menyalakan rokokku lagi
"iya pak, baca lagi ya?"
"Ya... dalam hati aja, gak perlu dengan suara, sambil rokokan, santai aja" kata beliau sambil sesekali melihat bapakku disebelahnya dan mereka ngobrol saat aku baca kertas kedua tersebut. Sepertinya tulisan ini tidak asing bagiku, ah gak mungkin ini tulisanku, tinta berwarna biru dengan bahasa inggris lagi. Aku sering bernyanyi lagu lagu berbahasa Inggris, tapi aku sendiri malas menulis semenjak buku puisiku kubakar semester 2 waktu itu. Tiba tiba aku terhentak..
"Lho kok rokoknya tinggal 4 batang? bukannya aku tadi pegang 1 pak 12 batang?"
Kemudian pak AGT menyerahkan tumpukan kertas kertas didepanku ke Bapak,
"Ini Mas, dibakar satu satu dengan yang tadi. Jangan lupa Bismillah"
Apapun itu, aku berterimakasih banyak kepada beliau. "Pak terima kasih ya bantuannya." aku cium tangan beliau dan beliau segera menarik tangannya dan berkata "Jangan diulangi lagi kalo memang mau jadi orang biasa, sudah tak ambil semua yang ganggu kamu"
Semenjak itu aku bisa mulai beraktifitas normal meskipun tidak meminum obat lagi karena kata ibu obatya habis, padahal di lemari ada. Ibu memang sengaja tidak membuatku kecanduan, beliau bilang kalo nanti diteruskan mungkin kamu tidak bisa percaya diri untuk sembuh.. Apapun itu aku amini ibu.
Setelah itu aku lebih fokus untuk kuatkan diri sendiri dan mengabaikan pikiran pikiran yang tak jelas karena segera semester kuliah akan dimulai. Suatu pagi, telfonlah seorang sahabat dengan bertanya pada orangtuaku, kenapa aku tidak segera ke Malang mengurus rencana studi semester. Dengan tanpa ragu ibuku menjawab, "Dia sakit DEPRESI".. whattt??
Sudah terlanjur, tidak perlu malu pada kenyataan, memang pahit tapi tetaplah berjuang demi masa depan.
No comments:
Post a Comment