Thursday, August 29, 2024

Ilmu terberat di dunia dan ridhoNya lah yang jadi penentu

Hidupku seperti film beautiful mind waktu itu.. padahal film tersebut belum ada saat aku sakit aneh ini.
Antara nyata dan tidak semua tidak bisa aku bedakan sampai pada waktu aku mempraktekkan ilmu terberat di dunia, yaitu ikhlas. Bagaimana tidak, berlarut larut aku menjalani hari dengan bertemu makhluk halus, seakan bisa komunikasi batin dan menerawang atau meramalkan sesuatu yang belum terjadi yang ternyata bukanlah kenyataan hidup adalah seperti di dunia lain antara otak dan semua panca indra tidak singkron. Bisalah engkau sebut ini gila, setres atau apapun yang engkau mau.
Suatu hari orang tuaku sudah pasrah, aku hanya terbaring di depan tivi yang katanya habis aku angkat dan mau banting. Ibuku membisikan sesuatu padaku “ikhlas yo le...” mungkin ini waktuku sudah menipis di dunia. Berkecamuk di diriku semua yang ada, kelumpuhan, masuk rumah sakit jiwa karena ketidak mampuan mengendalikan diri, ketakutan akan mati muda, impian punya keluarga kandas, penyesalan, oh Gusti.. saya mohon ampun dengan semua yang telah aku sia siakan.. waktu..
Semakin sore aku semakin menggigil ketakutan dan panas mendera sampai ke mataku..  ibu bisikan lagi kata kata kepadaku. Jelas aku tangkap
Nak, tak mintakan tolong ke Mas Imam ya...
Iya buk, mohon pertolongan padanya ya. Salam dari aku
Pak Imam adalah guru ngaji di sendang belakang rumah, dulu pernah aku belajar ngaji iqro disana dengannya. Orangnya kharismatik, tanpa pernah marah meski aku pernah berkelahi di pondoknya. Beliau jarang turun gunung ke kampung. Sekali lewat depan rumah begitu aku menatapnya serasa aku banyak dosa karena tidak pernah sekalipun kembali lagi belajar padanya. Ah mungkin terlambat aku menebus dosa ini. Semoga aku diberi kesempatan memperbaiki hidupku.
Setelah ibu datang sekitar jam 10 malam, aku sangat berterimakasih pada ibu, dan segera meminum air yang diberikannya.
iki ko mas imam ya buk?
Ya, dari air wudhu langgar
Alhamdulillah, matur suwun mas Imam, glek glek glek
Segerrr plong serasa... wenak dan aku langsung tidur nyenyak sekali. Entah berapa lama aku tidur. Lalu aku terbangun tapi kok lampunya jauh ya?

Hanya terlihat sebuah titik putih jauh sekali di depan mataku...
Aku menggerakkan tangan untuk memegang badan atau apapun tapi tidak terlihat apa apa atau tidak ada yang bisa aku rasakan
Toloooooongggg, aku berteriak pada siapapun yang mendengarku.. tapi sia sia
Aku coba untuk berlari mendekati sinar putih yang jauh disana, tak dapat mendekat... tapi semakin aku memaksa berlari mendekatinya aku semakin jauh. Semakin kecil cahaya itu... aku menangis sampai tak bisa aku mengeluarkan suara lagi. Aku berfikir jika ini adalah kematianku. Aku sudah mati, atau aku sakarotul maut?? Titik putih itukah pintu ajalku. MasyaAllah... tidak sedikitpun aku siap untuk mati.. aku semakin menjerit.. Maaf ya Allah, maaf ya Allah.. hanya itu  yang aku ucapkan. Tidak tau aku berapa lama aku mengucapkannya, tak ada perubahan apapun...
....
Aku terdiam, berfikir semuanya sudah berakhir. Mungkin malaikat akan mendatangiku aku masih terdiam.
....
Kemudian aku berfikir, kata kata ibu yang selalu diucapkan padaku saat sakit. Semeleh yo le (ikhlas ya nak).. Apakah ikhlas itu? Apakah aku harus berserah? Menerima takdirku jika aku mati? Meninggalkan semua tanpa sempat aku meminta maaf pada kedua orang tuaku. Ya Allah aku .. aku..
Jika Engkau memberikan kesempatan padaku, aku akan memperbaiki cara hidupku dan melakukan yang terbaik yang aku bisa
Namun jika ini waktuku untuk mati, matikanlah aku dengan Islam, ampunilah dosa dosaku, bahagiakanlah orang tuaku. InsyaAllah hambaMu ini “ikhlas”
Kalimat syahadat aku panjatkan dengan nafas dalam dan tersengal sengal. Dan aku akhiri dengan perasaan lega dengan hati senang tersenyum aku berucap “Allah.. aku siap”
Tiba tiba sinar yang jauh itu perlahan mendekat.. MasyaAllah apakah itu pintu kematian atau kehidupan, aku tetap tersenyum dengan kepercayaan “Ini adalah RidhoMu ya Rabb..”
Subhanallah.. aku terbangun dari tempat tidurku dengan melihat kakakku memegang kakiku dan ibuku duduk di dadaku... Alllaahhhhhuakbar
Aku langsung memeluk ibuku.. Maafkan anakmu ini buk, maafkan aku
Alhamdulillah kulihat jam 2 dan masih petang terlihat di kaca jendela. Terimakasih kesempatan yang engkau berikan ya Allah. 

No comments:

Post a Comment