Hidupku seperti film beautiful mind waktu
itu.. padahal film tersebut belum ada saat aku sakit aneh ini.
Antara nyata dan tidak semua tidak bisa aku
bedakan sampai pada waktu aku mempraktekkan ilmu terberat di dunia, yaitu
ikhlas. Bagaimana tidak, berlarut larut aku menjalani hari dengan bertemu
makhluk halus, seakan bisa komunikasi batin dan menerawang atau meramalkan
sesuatu yang belum terjadi yang ternyata bukanlah kenyataan hidup adalah seperti
di dunia lain antara otak dan semua panca indra tidak singkron. Bisalah engkau
sebut ini gila, setres atau apapun yang engkau mau.
Suatu hari orang tuaku sudah pasrah, aku hanya
terbaring di depan tivi yang katanya habis aku angkat dan mau banting. Ibuku
membisikan sesuatu padaku “ikhlas yo le...” mungkin ini waktuku sudah menipis
di dunia. Berkecamuk di diriku semua yang ada, kelumpuhan, masuk rumah sakit
jiwa karena ketidak mampuan mengendalikan diri, ketakutan akan mati muda, impian
punya keluarga kandas, penyesalan, oh Gusti.. saya mohon ampun dengan semua
yang telah aku sia siakan.. waktu..
Semakin sore aku semakin menggigil ketakutan
dan panas mendera sampai ke mataku.. ibu
bisikan lagi kata kata kepadaku. Jelas aku tangkap
Nak, tak mintakan tolong ke Mas Imam ya...
Iya buk, mohon pertolongan padanya ya. Salam dari
aku
Pak Imam adalah guru ngaji di sendang belakang
rumah, dulu pernah aku belajar ngaji iqro disana dengannya. Orangnya
kharismatik, tanpa pernah marah meski aku pernah berkelahi di pondoknya. Beliau
jarang turun gunung ke kampung. Sekali lewat depan rumah begitu aku menatapnya
serasa aku banyak dosa karena tidak pernah sekalipun kembali lagi belajar
padanya. Ah mungkin terlambat aku menebus dosa ini. Semoga aku diberi kesempatan
memperbaiki hidupku.
Setelah ibu datang sekitar jam 10 malam, aku
sangat berterimakasih pada ibu, dan segera meminum air yang diberikannya.
iki ko mas imam ya buk?
Ya, dari air wudhu langgar
Alhamdulillah, matur suwun mas Imam, glek glek
glek
Segerrr plong serasa... wenak dan aku langsung
tidur nyenyak sekali. Entah berapa lama aku tidur. Lalu aku terbangun tapi kok lampunya
jauh ya?
Hanya terlihat sebuah titik putih jauh sekali
di depan mataku...
Aku menggerakkan tangan untuk memegang badan
atau apapun tapi tidak terlihat apa apa atau tidak ada yang bisa aku rasakan
Toloooooongggg, aku berteriak pada siapapun
yang mendengarku.. tapi sia sia
Aku coba untuk berlari mendekati sinar putih
yang jauh disana, tak dapat mendekat... tapi semakin aku memaksa berlari
mendekatinya aku semakin jauh. Semakin kecil cahaya itu... aku menangis sampai
tak bisa aku mengeluarkan suara lagi. Aku berfikir jika ini adalah kematianku. Aku
sudah mati, atau aku sakarotul maut?? Titik putih itukah pintu ajalku.
MasyaAllah... tidak sedikitpun aku siap untuk mati.. aku semakin menjerit..
Maaf ya Allah, maaf ya Allah.. hanya itu
yang aku ucapkan. Tidak tau aku berapa lama aku mengucapkannya, tak ada
perubahan apapun...
....
Aku terdiam, berfikir semuanya sudah berakhir.
Mungkin malaikat akan mendatangiku aku masih terdiam.
....
Kemudian aku berfikir, kata kata ibu yang
selalu diucapkan padaku saat sakit. Semeleh yo le (ikhlas ya nak).. Apakah
ikhlas itu? Apakah aku harus berserah? Menerima takdirku jika aku mati? Meninggalkan
semua tanpa sempat aku meminta maaf pada kedua orang tuaku. Ya Allah aku ..
aku..
Jika Engkau memberikan kesempatan padaku, aku
akan memperbaiki cara hidupku dan melakukan yang terbaik yang aku bisa
Namun jika ini waktuku untuk mati, matikanlah
aku dengan Islam, ampunilah dosa dosaku, bahagiakanlah orang tuaku. InsyaAllah
hambaMu ini “ikhlas”
Kalimat syahadat aku panjatkan dengan nafas
dalam dan tersengal sengal. Dan aku akhiri dengan perasaan lega dengan hati
senang tersenyum aku berucap “Allah.. aku siap”
Tiba tiba sinar yang jauh itu perlahan
mendekat.. MasyaAllah apakah itu pintu kematian atau kehidupan, aku tetap
tersenyum dengan kepercayaan “Ini adalah RidhoMu ya Rabb..”
Subhanallah.. aku terbangun dari tempat
tidurku dengan melihat kakakku memegang kakiku dan ibuku duduk di dadaku...
Alllaahhhhhuakbar
Aku langsung memeluk ibuku.. Maafkan anakmu
ini buk, maafkan aku
Alhamdulillah
kulihat jam 2 dan masih petang terlihat di kaca jendela. Terimakasih kesempatan yang engkau berikan ya
Allah.

No comments:
Post a Comment