Tuesday, February 12, 2019

Insomnia yang tak biasa

Aku berjalan gontai menuju kamar mandi,tengah malam sekitar jam 1.00 dini hari aku ingin berwudhu untuk sholat malam. Tiba tiba saja hal ini ingin kulakukan. Segarnya pancuran mandi model bali dari warisan kakek nenek yang sudah meninggal beberapa tahun yang lalu. Aku memang cucu dari anak satu satunya nenek. Kuliah dengan modal tekat, sekarang selesai semester 4 dan liburan panjang ini aku merasa tidak enak badan. Biasanya aku habiskan libur di Malang, kota yang penuh cerita dan cinta atau cari pekerjaan sampingan untuk menambah pengalaman dan penghasilan tentunya. tapi semester 4 teknik mesin yang membuatku mulai galau dengan mulainya pusing seluk beluk dasar permesinan membuatku tidak terkontrol saat libur panjang yang dimulai akhir desember sampai februari. Teman teman berkumpul semua, semua cerita tanpa mengenal waktu tertulis hingga adzan subuh kami baru pulang ke rumah masing masing. Puncaknya di akhir tahun, dengan perpaduan minuman soda dan sambal membuatku terkapar hingga saat ini. Jam tidur yang sudah berubah memperparah keadaanku. Muntah dan kekurangan cairan hingga gejala typhus mengakibatkan aku tidak bisa mengontrol diri. Tidak ada pemeriksaan medis memang dengan keadaan ekonomi dan budaya keluarga kami. Hanya obat sakit kepala ataupun obat obatan komersil yang dijual bebas di toko sebelah. Aku akan mulai tidur jika sudah pagi jam 7.30 dan akan seharian terjaga setelah bangun jam 14.00 siang. Dan malam ini aku mulai sholat malam untuk meminta petunjuk ada apa denganku. Setelah berwudhu selesai, aku mulai merapikan diri dan sholat malam. Rokaat pertama aku serasa sering tidak sadar berucap apa, tetapi gerakan tetap aku pertahankan meskipun keringat dingin. Kemudian aku mulai tidak terkontrol saat selesai rokaat kedua atau akhir aku mengucap salam. Aku melihat sesosok besar namun buram tidak begitu jelas di belakang mengikuti posisi sholat sebagai makmum dariku. Sontak aku teriak dan menghilanglah sosok tersebut.


Ibu yang satu satunya berada di rumah saat itu langsung berlari kepadaku dan mengarahkanku untuk berbaring kembali. Maafkan aku ibu...

Malam demi malam aku mulai paranoid, suara jatuh yang besar di atas plavon tempat tidurku awalnya hanya kukira kucing ataupun tikus. Tidak sering bergerak, hanya di satu titik dan lama sekali baru bunyi kembali dengan keras. DUUMM.... akupun masih mencoba menghilangkan insomnia ini dan mencoba berfikir positif. Ah itu hanya pikiran saja...paling juga kucing. Lemas memang berhari hari makan pun tidak bisa menelan dengan baik karena muntaber sudah mulai menyerang, beberapa kali makanan aku keluarkan kembali hingga suatu malam aku pun kembali ke kamar mandi untuk sholat dan Alhamdulillah aku bisa menunaikannya dengan lancar. Begitu selesai akupun mencoba memaksakan tidur dengan hati tenang. Jam 2 pagi aku mulai berbaring dan hanya melihat jam dan berselimut tebal supada badan tidak menggigil dari demam yang tidak tentu menyerang. jam 3 aku masih tidak bisa tertidur malah terdengar suara suara ketukan dari tembok sebelah seperti ada yang bermain main pukulan kayu oleh anak kecil. ah apa ini, tidak ada orang yang mungkin di sebelah kamarku, kan kamar mandi di sebelah. begitu aku mengalihkan pada atap tiba tiba dari titik yang biasa berbunyi di malam hari itu terlihat sesosok putih dengan ikatan dikepalanya... Dancok... pocoooonnggg

Lagu ini terinspirasi dari cerita nyataku


No comments:

Post a Comment